MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT — 18 September 2026 — Proyek penggantian jembatan bernilai Rp14.538.806.900 di Kabupaten Mempawah kini memasuki sekitar lima bulan sejak kontrak ditandatangani pada 16 April 2026. Paket tersebut dilaksanakan CV Hasea Karya di bawah Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Kalimantan Barat.
Sorot Kita
Nilainya bukan kecil. Karena itu, Jejak Kasus Indonesia menilai persoalannya sekarang bukan sekadar pekerjaan terlihat berjalan atau tidak, melainkan berapa sebenarnya progres fisik yang sudah dicapai dibandingkan target kontrak.
Informasi lapangan yang diberitakan pada 17 September menyebut pekerjaan Jembatan Benteng masih berada pada tahapan pemancangan spun pile bagian abutment. Sementara di Jembatan Bundung, pekerjaan jembatan sementara disebut masih berlangsung.
Sorot Kita
JKI: Buka Angkanya, Jangan Biarkan Publik Menebak
Dengan kontrak yang telah berjalan sekitar lima bulan, BPJN Kalimantan Barat dan pihak terkait perlu menjelaskan secara terbuka:
Berapa persen progres rencana? Berapa progres aktual? Apakah terdapat deviasi? Berapa sisa waktu kontrak?
Empat angka tersebut akan memberikan gambaran yang jauh lebih jelas dibanding sekadar menyebut pekerjaan masih berjalan.
JKI juga menilai belum tepat menyimpulkan proyek ini terlambat sebelum target jadwal, kurva-S dan laporan progres aktual dibuka. Namun justru karena itulah data tersebut penting disampaikan kepada publik.
Sorotan terhadap pekerjaan ini juga bukan pertama kali muncul. Pada Juli 2026, pemberitaan mengenai paket yang sama telah menyoroti progres pekerjaan serta aspek keselamatan dan akses sementara bagi pengguna jalan.
Start Time News
Rp14,5 Miliar Uang Negara, Publik Berhak Mendapat Jawaban
Jejak Kasus Indonesia meminta BPJN Kalimantan Barat, Satker PJN Wilayah I, PPK, konsultan pengawas dan CV Hasea Karya memberikan penjelasan berdasarkan data mengenai kondisi terkini kedua jembatan tersebut.
Jika pekerjaan masih sesuai jadwal, buka datanya. Jika terdapat deviasi, jelaskan penyebab dan langkah penanganannya.
Sebab yang dibutuhkan masyarakat bukan dugaan, melainkan angka progres, mutu pekerjaan, keselamatan pengguna jalan dan kepastian kapan jembatan dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
Jejak Kasus Indonesia membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait.
Jurnalis: Nuryo Sutomo
Editor: Redaksi Jejak Kasus Indonesia — Independen Mengungkap Fakta


Social Header