Breaking News

HARGA PERTALITE MELAMBUNG Rp15.000–Rp20.000/LITER, PRODUKSI COKLAT TERANCAM GAGAL PANEN — AIR HARUS DITARIK 500 METER, BIAYA MEMBEBANI PETANI

KOTARAYA BARAT, PARIGI MOUTONG — Musim kemarau membuat bibit coklat mulai tumbuh dan sangat membutuhkan pengairan rutin. Namun bagi petani di Dusun Kampung Baru, Kecamatan Kotaraya Barat, menjaga tanaman tetap hidup menjadi perjuangan berat. Letak kebun berada di ketinggian, sementara sumber air berada di saluran 500 meter di bawah kebun. Satu-satunya cara mengalirkan air ke tanaman adalah menggunakan mesin Alkon yang digerakkan genset berbahan bakar Pertalite. Tanpa bahan bakar, air tidak bisa naik — dan bibit muda akan kering serta mati.

Kini beban itu semakin berat. Kelangkaan BBM bersubsidi di SPBU resmi memaksa petani membeli Pertalite dari pengecer dengan harga Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter — lebih dari dua kali lipat harga resmi pemerintah.

Bapak Nuraini, petani coklat setempat, menjelaskan situasi kritis tersebut:
"Semenjak musim kemarau, bibit coklat saya sudah mulai tumbuh dan butuh air setiap hari. Kebun saya jauh dari saluran, harus ditarik air naik 500 meter ke atas pakai Alkon dan genset. Setiap hari saya butuh minimal 6 liter Pertalite, bukan untuk kendaraan, tapi untuk menyiram tanaman nyawa saya.

Sekarang di SPBU susah sekali dapat, terpaksa beli di pengecer sampai Rp20.000 per liter. Itu berarti saya harus keluarkan Rp90.000 sampai Rp120.000 setiap hari — belum panen, biaya produksi sudah jutaan rupiah per bulan. Kalau terus begini, saya tidak sanggup bertahan sampai musim hujan. Tanpa air, bibit mati, harapan hilang."
Kondisi ini secara langsung melonjakkan biaya produksi petani secara tidak wajar. Jika kelangkaan dan praktik penjualan ilegal terus berlanjut, dikhawatirkan petani akan berhenti mengairi kebunnya, yang berujung pada gagal panen massal, kerugian besar, dan penurunan drastis pendapatan masyarakat di wilayah pedesaan Parigi Moutong.
📢 PERNYATAAN & TUNTUTAN

Berdasarkan fakta di lapangan, Jejakkasus Indonesia menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk segera mengambil langkah-langkah berikut:

1. 🛢️ Kepada PT Pertamina (Persero) & Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tengah

Segera evaluasi, tambah alokasi, dan perbaiki distribusi pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk Kabupaten Parigi Moutong — khususnya daerah pedesaan seperti Kotaraya Barat — guna menjamin ketersediaan yang merata hingga ke pelosok desa.

2. ⚖️ Kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong & Satgas Pangan

Lakukan pengawasan ketat, patroli rutin, dan penindakan tegas terhadap penjualan BBM eceran secara ilegal dengan harga tidak wajar. Telusuri secara transparan kemungkinan penyimpangan penyaluran BBM bersubsidi yang menjadi akar kelangkaan di tingkat masyarakat. Pertanggungjawabkan oknum yang menimbun atau mengalihkan pasokan untuk keuntungan pribadi.

3. 🌾 Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten & Provinsi

Segera pertimbangkan pemberian akses prioritas atau skema khusus BBM bersubsidi bagi petani. Mengingat saat ini Pertalite bukan lagi sekadar bahan bakar kendaraan, melainkan kebutuhan pokok alat produksi untuk pengairan yang menopang ketahanan ekonomi dan pangan masyarakat pedesaan.

4. 🤝 Kepada Seluruh Pihak Terkait

Pastikan BBM bersubsidi tepat sasaran dan sampai ke tangan yang benar-benar membutuhkan — seperti petani yang menggunakannya untuk mengairi tanaman — bukan dimanfaatkan oknum untuk keuntungan pribadi yang merugikan masyarakat luas.
Nasib para petani dan ketahanan pangan di wilayah ini sedang dipertaruhkan. Kami memohon perhatian serius dan tindakan segera dari pihak berwenang. Jangan biarkan bibit coklat mati karena tidak mampu membeli bahan bakar untuk menarik air.

Red***
[M. Ronaldi]
© Copyright 2022 - JEJAKKASUSINDONESIA.ID