PARIGI MOUTONG - Sebuah insiden memprihatinkan mencuat di SPBU mensung, Desa ogomolos,Kecamatan Mepanga,Kabupaten Parigi Moutong,Sulawesi tengah,pada Rabu,2 September 2026, Unit mobil Ambulanse darurat yang membawah pasien rujukan terpaksa harus mengisi bahan bakar jenis Biosolar secara manual menggunakan Jergen 20 liter akibat stok di SPBU tersebut diklaim habis oleh pengawas.
Berdasarkan investigasi dan keterangan langsung dari sopir ambulans berinisial MA yang bertugas membawa pasien rujukan dari puskesmas ongka malino menuju rumah sakit Tinombo, peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 11.00 WITA. Setibanya di SPBU mensung untuk melakukan pengisian biosolar Rp 150,000, sopir ambulans menemui pengawas SPBU berinisial RP.
Saat sopir ambulans MA meminta pengisian BBM, pengawas berinisial RP Berdalih bahwa stok biosolar sudah habis atau dikeringkan, Namun secara ganjil, pengawas tersebut justru menwarkan pembelian melalui Jerigen berkapasitas 20 liter dengan kesepakatan harga tetap sesuai STANDAR SPBU.
Guna memenuhi kebutuhan ambulans darurat tersebut,pengawas RP secara langsung menelpon anggotanya yang Berinisial IS untuk mengantarkan pasokan biosolar dalam jerigen 20 liter dari luar ke area SPBU.
Menanggapi konfirmasi awak media, pengawas SPBU Yang berjaga pada Sabtu,26 September 2026 inisial RL memberikan keterangan pembelaan bahwa insiden tersebut terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan dikarenakan "ada kerusakan dibagian dispenser dan sementara dicari penyebabnya sehingga menyebabkan minyak tidak bisa keluar" dan berkedok pihak SPBU selalu menyediakan emergency.
Namun, ketika di desak untuk memberikan transparansi lebih lanjut, termasuk permintaan penunjukan log sheet/catatan pengeluaran BBM darurat serta rekaman CCTV diarea dispenser pada hari kejadian pihak pengawas SPBU memilih bungkam dan tidak memberikan tanggapan apapun.
Di satu sisi, pihak pengawas berdalih ada kerusakan pada dispenser dan menyediakan pasokan darurat, namun disisi lain, sikap enggan transparan saat diminta bukti otentik semakin memperkuat kecurigaan publik.
kendraan prioritas seperti ambulans yang membawa nyawa pasien darurat seharusnya mendapatkan diskresi atau jalur darurat yang jelas sesuai standar, alih alih harus bergantung pada pasokan manual non standar yang tidak bisa di buktikan transparansinya.
Temuan di lapangan mengindikasikan adanya dugaan kuat bahwa kelangkaan biosolar di SPBU mensung bukan sekedar kesalahan teknis murni, melainkan sengaja di keringkan atau di habiskan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk di alihkan kepada pihak atau pengetap ilegal menggunakan jerigen.
Tindakan pengawas RP yang mendatangkan BBM via jerigen melalui perantara anggotanya inisial IS, membuktikan bahwa pasokan sebenarnya ada, namun dikuasai di luar sistem dispenser resmi. Hal ini tidak hanya mencedarai aturan penyaluran BBM bersubsidi sesuai ketentuan BPH Migas, tetapi juga mengancam keselamatan nyawa pasien darurat karena menghambat kecepatan mobilitas layanan publik.
Pihak media mendesak PT Pertamina (Persero), BPH Migas, serta aparat penegak hukum (APH) dan pemda setempat untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif terhadap SPBU Mensung, Oknum Pengawas RP dan pihak terkait harus di periksa atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan penimbun/pengecohan BBM bersubsidi yang merugikan masyarakat serta mengabaikan mobilisasi darurat kesehatan.
Jurnalis (Moh Ronaldi)

Social Header