https://www.jejakkasusindonesia.id
Mempawah_Kalbar – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan di Indonesia. Tanggal ini dipilih untuk mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara pada tahun 1889, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan pelopor berdirinya Taman Siswa.
Penetapan Hardiknas sendiri merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam melawan ketimpangan pendidikan di era kolonial. Gagasan beliau tentang pendidikan yang merdeka dan berpihak pada rakyat hingga kini masih relevan untuk dijadikan pijakan.
Pemerintah menunjukkan perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan, salah satunya melalui program pemenuhan gizi bagi siswa. Langkah ini dinilai penting dalam mendukung tumbuh kembang serta konsentrasi belajar peserta didik di sekolah.
Namun, di tengah upaya tersebut, muncul berbagai catatan kritis dari kalangan Aktivis HMI. Salah satunya disampaikan langsung oleh Abdul Rohman (Bang Eko) ketua umum HMI Cabang Mempawah, yang menyoroti fenomena perubahan perilaku siswa di era digital.
Menurutnya, perhatian terhadap aspek fisik seperti pemenuhan gizi belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan kualitas intelektual dan moral peserta didik. Ia menilai, tidak sedikit siswa yang justru lebih fokus pada pencarian popularitas di media sosial, yang terkadang mengarah pada perilaku yang kurang mencerminkan nilai-nilai pendidikan.
“Perut siswa kenyang dengan kebijakan, namun pikiran kosong dengan program yang terus diperbaiki tetapi belum menunjukkan hasil signifikan. Anggaran diobral demi program mengenyangkan siswa-siswi, namun pendidik justru masih kesulitan mendapatkan kemakmuran dari jerih payahnya mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik semata. Keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan siswa dan kesejahteraan tenaga pendidik menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan.
Momentum Hardiknas tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi seluruh pihak. Pendidikan yang ideal bukan hanya tentang siswa yang sehat secara fisik, tetapi juga cerdas, berkarakter, serta didukung oleh pendidik yang sejahtera dan dihargai.
Dengan semangat pemikiran Ki Hajar Dewantara, diharapkan seluruh elemen bangsa dapat kembali menyadari bahwa kemajuan pendidikan harus dibangun secara menyeluruh—tidak hanya “mengenyangkan” peserta didik, tetapi juga memakmurkan para pendidik sebagai ujung tombak peradaban.
(Nuryo Sutomo)



Social Header