Breaking News

Hari Pendidikan Nasional: Antara Gizi dan Literasi, Mana yang Terabaikan?

 


https://www.jejakkasusindonesia.id

Mempawah_Kalbar – Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang berakar dari pemikiran Ki Hajar Dewantara seharusnya menjadi momentum evaluasi yang jujur terhadap arah pendidikan nasional. Namun hingga hari ini, persoalan mendasar justru masih berulang: lemahnya kemampuan literasi peserta didik di tengah gencarnya berbagai program pendidikan.


Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan perhatian terhadap pemenuhan gizi siswa sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Langkah ini tentu penting dan patut diapresiasi. Namun, fokus tersebut tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata. Pendidikan bukan hanya soal tubuh yang sehat, tetapi juga tentang pikiran yang terlatih dan kemampuan memahami dunia melalui literasi.


Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa masih jauh dari harapan. Banyak siswa yang belum mampu memahami bacaan secara utuh, apalagi menganalisis dan mengkritisi informasi. Ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang belum menempatkan literasi sebagai prioritas utama.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka berbagai program pendidikan yang dirancang, termasuk digitalisasi dan inovasi pembelajaran, hanya akan menjadi lapisan luar tanpa fondasi yang kuat. Siswa mungkin mendapatkan akses teknologi, tetapi tanpa kemampuan literasi, mereka akan kesulitan memanfaatkannya secara optimal.


Rifky, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah, menegaskan bahwa arah kebijakan pendidikan perlu dikoreksi agar lebih seimbang.


“Saya melihat pemerintah mulai serius pada aspek gizi, tetapi literasi belum mendapat perhatian yang sama. Padahal tanpa literasi yang kuat, pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang sehat, namun tidak siap menghadapi tantangan zaman.” ujarnya.


Ia menilai bahwa penguatan literasi tidak cukup dilakukan melalui program seremonial atau kampanye sesaat. Dibutuhkan kebijakan yang konsisten, implementasi yang nyata di ruang kelas, serta komitmen serius dalam membangun budaya membaca dan berpikir kritis.


Lebih jauh, persoalan ini juga menunjukkan adanya ketimpangan antara visi besar pendidikan dengan realitas di lapangan. Di satu sisi, pendidikan diarahkan untuk menghasilkan generasi yang unggul dan adaptif terhadap perubahan global. Namun di sisi lain, kemampuan dasar yang seharusnya menjadi fondasi justru belum sepenuhnya terpenuhi.


Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, tetapi dari sejauh mana kebutuhan dasar peserta didik benar-benar terpenuhi. Gizi dan literasi bukan untuk dipilih salah satu, melainkan harus berjalan beriringan.


Tanpa keberpihakan yang jelas terhadap penguatan literasi, pendidikan Indonesia berisiko terus berjalan tanpa arah yang kokoh. Sudah saatnya pemerintah menempatkan literasi bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti dari seluruh kebijakan pendidikan.

© Copyright 2022 - JEJAKKASUSINDONESIA.ID